Asal - Usul Angkling Darma
Prabu Angling Dharma adalah raja agung dari Kerajaan Malawapati, lokasi
makamnya diyakini terletak di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan
Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Namanya begitu tersohor, terkenal, dan legendaris dari ingatan manusia
dari zaman ke zaman, dari satu peradaban ke peradaban lain. Tidak jelas
kapan, tahun atau jaman keberadaan Kerajaan Angling Dharma.
Namun, Sang Raja Agung, Prabu Angling Dharma diyakini hidup pada masa
Hindu menjadi agama mayoritas di Tanah Jawa, Bumi Nusantara yang kini
bernama Indonesia. Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana,
mengayomi masyarakat dengan baik.
Dalam kisah, cerita tutur dan mitos yang berkembang, Prabu Angling
Dharma tidak hanya negarawan ulung yang pandai ilmu tata negara, tetapi
juga menguasai ilmu kanuragan, silat atau lebih tepatnya ksatria pilih
tanding. Tidak hanya itu, Sang Raja juga bisa memahami bahasa hewan atau
binatang, serta menguasai ilmu gaib tingkat tinggi.
Mirip dengan kemampuan Nabi Sulaiman As yang menjadi pemimpin bagi
bangsa manusia, bangsa gaib, dan makhluk dari binatang. Mereka adalah
orang-orang pilihan yang dipercaya Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi,
memimpin rakyat.
Meski demikian, nama Sang Prabu bersinar dan terus bersinar dari masa ke
masa. Seperti kata seorang penulis asal Britania, H.G. Wells yang
berkomentar tentang Raja Asoka, "Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja
dan kaisar yang menyebut dirinya dengan kata Yang Agung atau Yang Sangat
Mulia. Mereka bersinar selama waktu yang singkat, kemudian hilang.
Tapi, Asoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang seperti bintang yang
cemerlang, bahkan sampai sekarang."
Sama halnya Angling Darma, raja yang memiliki patih sakti bernama Batik
Madrim ini namanya selalu dikenal dalam sejarah, meski keabsahan
kisahnya belum diakui sebagai sebuah fakta sejarah. Bekas dan sisa-sisa
kerajaannya pun belum ditemukan hingga sekarang.
Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur juga diyakini sebagai tempat atau
petilasan Sang Prabu. Namun, juru kunci makam Angling Darma di Kabupaten
Pati, Suroso menuturkan bila di Kabupaten Bojonegoro hanyalah petisan
saat dia dikutuk menjadi belibis putih oleh tiga peri atau siluman
cantik.
Di Bojonegoro, Prabu Angling Dharma mendapatkan seorang putri cantik,
anak dari Raja Bojonegoro. Dari istri ini, Sang Prabu dikaruniai seorang
anak, Pangeran Angling Kusuma.
Setelah dewasa, Angling Kusuma menggantikan tahta kakeknya dan menjadi
Raja Bojonegoro. Dari analisis tersebut, Suroso yakin jika makam Prabu
Angling Darma berada di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo,
Kabupaten Pati.
Sedangkan Makam Batik Madrim berada di Desa Kedungwinong, Sukolilo yang
jaraknya hanya sekitar 2 km dari makam Angling Darma. Tidak jauh dari
tempat tersebut, juga ada Gua Eyang Naga Raja (ejaan Jawa: Nogo Rojo)
yang diyakini sebagai tempat peristirahatannya.
Tempat-tempat tersebut sekarang ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk
menggelar wisata religi (religious tourism). Tentu, hanya orang-orang
kalangan spiritualis-mistis, serta pegiat sejarah yang biasa mengunjungi
makam tersebut untuk wisata religi.
KUTUKAN KEPADA ANGLING DHARMA
Pada waktu Angling darma berburu di hutan, dia melihat dua pasang burung
jalak (jelmaan Sang Hyang Batara Guru dan Dewi Uma, isterinya)
berasyik-masyuk di atas pohon persis di atas kepala Sang Raja. Kedua-dua
ekor burung itu pun dipanahnya, matilah si burung betina. Burung jantan
pun mengucapkan kutuknya: Angling Darma akan berpisah dengan isterinya
ketika keduanya sedang bercinta-cintaan. Dewi Setyowati keluar menjemput
kedatangan raja yang pulang dari berburu.
Raja dan permaisuri memasuki peraduan, tetapi raja bermuka murung
memikirkan hukuman yang akan dijatuhkan oleh Naga Pertala. Dewi
Setyowati salah sangka terhadap sikap sang raja. Sang Dewi mengira Raja
tidak sudi dengan dirinya. Untuk mencairkan suasana tersebut,
diceritakanlah peristiwa terbunuhnya ular Tampar itu.
Naga Gini memfitnah Angling Darma kepada lakinya bahwa Angling Darma
sudah mencoba memperkosa dirinya. Tentu saja Sang Naga Pertala marah dan
ingin menghancurkan Angling Darma. Ketika Sang Naga menyamar masuk
menjadi udara, ia mendengar penuturan Angling Darma dengan sang
permaisuri. Karena perbuatan Angling Darma dianggap menyelamatkan Naga
Pertala dari malu, Sang Raja Mlowopati dihadiahi mukjizat seperti Nabi
Sulaiman, yaitu mampu memahami bahasa semua binatang, dengan syarat
tidak boleh diajarkan kepada siapapun.
Ketika Raja dan Ratu beradu, terdengarlah oleh Angling Darma percakapan
dua ekor cicak yang mengajak pasangannya berbuat seperti Raja dan Ratu.
Mendengar hal tersebut, Angling Darma tertawa. Setyowati tersinggung
hatinya, dianggapnya Sang Raja mentertawakan dirinya yang tidak mampu
melayani Sang Raja.
Untuk mencairkan suasana, terpaksalah Sang Raja menceritakan ilmu dari
sahabatnya, Naga Pertala. Akan tetapi di sinilah awal bencana itu . Dewi
Setyowati meminta diajari ilmu memahami bahasa binatang itu, jika
tidak, ia akan membunuh diri dengan cara terjun ke dalam api. Untuk
menunjukkan cintanya, Raja ingin bunuh diri bersama.
Ketika raja dan ratu telah siap di anjungan, api mulai marak, di bawah
panggung ada dua ekor domba bertengkar: si jantan dipaksa oleh si betina
untuk mengambilkan daun kelapa sebagai pengubat ‘nyidam’ hamilnya.
Domba jantan menolak. Ketika domba betina mengancam hendak bunuh diri,
bahkan si jantan menyuruh betinanya untuk melakukannya.
Setelah domba betina mati dalam api, domba jantan pun lenyap karena
keduanya adalah dewa yang menyamar. Mendengar domba jantan tidak mau
ikut musnah dalam api, berubahlah pikiran sang Raja: Sang Isteri
dibiarkan melompat sendiri. Dan Sang Raja pun sangat berduka dan
berkata: Saya tidak akan kawin lagi jika tidak ada wanita yang menyamai
Dewi Setyowati.
Janji Angling Darma tersebut didengar oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih.
Kedua-duanya lalu menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar
menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Ketika
melihat gadis cantik dekatnya, runtuhlah iman Sang Raja yang baru
kehilangan permaisurinya itu. Seketika itu, Dewi Uma menghukum Angling
Darma: ia harus meninggalkan istananya, dan kerajaannya akan tampak
seperti hutan sehingga hukuman selesai.
Raja pun memulai pengembaraannya yang pertama di kerajaan Mloyopati.
Angling Darma diberitahu oleh seorang nenek
Ketika rahasia ketiga-tiga gadis itu terbongkar, mereka marah dan
mengutuk Angling Darma menjadi burung Belibis. Mendapatkan kutuk yang
kedua kali, keyakinan diri sang raja mulai menurun. Sambil terbang,
dikatakannya bahwa ia lebih baik mati. Sampailah burung Belibis ke desa
Wonosari, Bojonegoro, tempat tinggal Demang Klungsur dan Geduk
pembantunya.
Terbetik dalam hati burung belibis untuk mengabdi kepada Geduk yang pada
waktu itu sedang memasang jerat untuk menangkap burung. Secara sengaja
kaki belibis dimasukkan ke jerat tersebut. Belibis dibawa kepada Ki
Demang. Burung belibis menasihati Ki Demang untuk berhenti menjerat
burung, meningkatkan pertanian, dan belajar menjadi pedagang telur
burung belibis. Ki Demang menjadi kaya-raya dan kampungnya mulai dikenal
orang.
Suatu hari Raja Darmowiseso, ayah Dewi Srenggono, mendapatkan ujian
berupa dua orang rakyatnya berebut isteri bernama Bermani. Kedua-duanya
mengaku asli bernama Bermana. Padahal salah satunya adalah palsu.
Belibis mendengar kabar tentang persoalan raja Darmowiseso dari burung
gagak. Belibis membujuk Ki

