Sabtu, 02 Maret 2019

Asal - Usul Angkling Darma




Prabu Angling Dharma adalah raja agung dari Kerajaan Malawapati, lokasi makamnya diyakini terletak di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.


Namanya begitu tersohor, terkenal, dan legendaris dari ingatan manusia dari zaman ke zaman, dari satu peradaban ke peradaban lain. Tidak jelas kapan, tahun atau jaman keberadaan Kerajaan Angling Dharma.

Namun, Sang Raja Agung, Prabu Angling Dharma diyakini hidup pada masa Hindu menjadi agama mayoritas di Tanah Jawa, Bumi Nusantara yang kini bernama Indonesia. Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, mengayomi masyarakat dengan baik.

Dalam kisah, cerita tutur dan mitos yang berkembang, Prabu Angling Dharma tidak hanya negarawan ulung yang pandai ilmu tata negara, tetapi juga menguasai ilmu kanuragan, silat atau lebih tepatnya ksatria pilih tanding. Tidak hanya itu, Sang Raja juga bisa memahami bahasa hewan atau binatang, serta menguasai ilmu gaib tingkat tinggi.

Mirip dengan kemampuan Nabi Sulaiman As yang menjadi pemimpin bagi bangsa manusia, bangsa gaib, dan makhluk dari binatang. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dipercaya Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi, memimpin rakyat.

Meski demikian, nama Sang Prabu bersinar dan terus bersinar dari masa ke masa. Seperti kata seorang penulis asal Britania, H.G. Wells yang berkomentar tentang Raja Asoka, "Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut dirinya dengan kata Yang Agung atau Yang Sangat Mulia. Mereka bersinar selama waktu yang singkat, kemudian hilang. Tapi, Asoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang seperti bintang yang cemerlang, bahkan sampai sekarang."

Sama halnya Angling Darma, raja yang memiliki patih sakti bernama Batik Madrim ini namanya selalu dikenal dalam sejarah, meski keabsahan kisahnya belum diakui sebagai sebuah fakta sejarah. Bekas dan sisa-sisa kerajaannya pun belum ditemukan hingga sekarang.

Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur juga diyakini sebagai tempat atau petilasan Sang Prabu. Namun, juru kunci makam Angling Darma di Kabupaten Pati, Suroso menuturkan bila di Kabupaten Bojonegoro hanyalah petisan saat dia dikutuk menjadi belibis putih oleh tiga peri atau siluman cantik.

Di Bojonegoro, Prabu Angling Dharma mendapatkan seorang putri cantik, anak dari Raja Bojonegoro. Dari istri ini, Sang Prabu dikaruniai seorang anak, Pangeran Angling Kusuma.

Setelah dewasa, Angling Kusuma menggantikan tahta kakeknya dan menjadi Raja Bojonegoro. Dari analisis tersebut, Suroso yakin jika makam Prabu Angling Darma berada di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Sedangkan Makam Batik Madrim berada di Desa Kedungwinong, Sukolilo yang jaraknya hanya sekitar 2 km dari makam Angling Darma. Tidak jauh dari tempat tersebut, juga ada Gua Eyang Naga Raja (ejaan Jawa: Nogo Rojo) yang diyakini sebagai tempat peristirahatannya.

Tempat-tempat tersebut sekarang ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menggelar wisata religi (religious tourism). Tentu, hanya orang-orang kalangan spiritualis-mistis, serta pegiat sejarah yang biasa mengunjungi makam tersebut untuk wisata religi.

KUTUKAN KEPADA ANGLING DHARMA

Pada waktu Angling darma berburu di hutan, dia melihat dua pasang burung jalak (jelmaan Sang Hyang Batara Guru dan Dewi Uma, isterinya) berasyik-masyuk di atas pohon persis di atas kepala Sang Raja. Kedua-dua ekor burung itu pun dipanahnya, matilah si burung betina. Burung jantan pun mengucapkan kutuknya: Angling Darma akan berpisah dengan isterinya ketika keduanya sedang bercinta-cintaan. Dewi Setyowati keluar menjemput kedatangan raja yang pulang dari berburu.

Raja dan permaisuri memasuki peraduan, tetapi raja bermuka murung memikirkan hukuman yang akan dijatuhkan oleh Naga Pertala. Dewi Setyowati salah sangka terhadap sikap sang raja. Sang Dewi mengira Raja tidak sudi dengan dirinya. Untuk mencairkan suasana tersebut, diceritakanlah peristiwa terbunuhnya ular Tampar itu.

Naga Gini memfitnah Angling Darma kepada lakinya bahwa Angling Darma sudah mencoba memperkosa dirinya. Tentu saja Sang Naga Pertala marah dan ingin menghancurkan Angling Darma. Ketika Sang Naga menyamar masuk menjadi udara, ia mendengar penuturan Angling Darma dengan sang permaisuri. Karena perbuatan Angling Darma dianggap menyelamatkan Naga Pertala dari malu, Sang Raja Mlowopati dihadiahi mukjizat seperti Nabi Sulaiman, yaitu mampu memahami bahasa semua binatang, dengan syarat tidak boleh diajarkan kepada siapapun.

Ketika Raja dan Ratu beradu, terdengarlah oleh Angling Darma percakapan dua ekor cicak yang mengajak pasangannya berbuat seperti Raja dan Ratu.  Mendengar hal tersebut, Angling Darma tertawa. Setyowati tersinggung hatinya, dianggapnya Sang Raja mentertawakan dirinya yang tidak mampu melayani Sang Raja.

Untuk mencairkan suasana, terpaksalah Sang Raja menceritakan ilmu dari sahabatnya, Naga Pertala. Akan tetapi di sinilah awal bencana itu . Dewi Setyowati meminta diajari ilmu memahami bahasa binatang itu, jika tidak, ia akan membunuh diri dengan cara terjun ke dalam api. Untuk menunjukkan cintanya, Raja ingin bunuh diri bersama.

Ketika raja dan ratu telah siap di anjungan, api mulai marak, di bawah panggung ada dua ekor domba bertengkar: si jantan dipaksa oleh si betina untuk mengambilkan daun kelapa sebagai pengubat ‘nyidam’ hamilnya. Domba jantan menolak. Ketika domba betina mengancam hendak bunuh diri, bahkan si jantan menyuruh betinanya untuk melakukannya.

Setelah domba betina mati dalam api, domba jantan pun lenyap karena keduanya adalah dewa yang menyamar. Mendengar domba jantan tidak mau ikut musnah dalam api, berubahlah pikiran sang Raja: Sang Isteri dibiarkan melompat sendiri. Dan Sang Raja pun sangat berduka dan berkata: Saya tidak akan kawin lagi jika tidak ada wanita yang menyamai Dewi Setyowati.

Janji Angling Darma tersebut didengar oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih. Kedua-duanya lalu menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Ketika melihat gadis cantik dekatnya, runtuhlah iman Sang Raja yang baru kehilangan permaisurinya itu. Seketika itu, Dewi Uma menghukum Angling Darma: ia harus meninggalkan istananya, dan kerajaannya akan tampak seperti hutan sehingga hukuman selesai. 

Raja pun memulai pengembaraannya yang pertama di kerajaan Mloyopati. Angling Darma diberitahu oleh seorang nenek

Ketika rahasia ketiga-tiga gadis itu terbongkar, mereka marah dan mengutuk Angling Darma menjadi burung Belibis. Mendapatkan kutuk yang kedua kali, keyakinan diri sang raja mulai menurun. Sambil terbang, dikatakannya bahwa ia lebih baik mati. Sampailah burung Belibis ke desa Wonosari, Bojonegoro, tempat tinggal Demang Klungsur dan Geduk pembantunya.

Terbetik dalam hati burung belibis untuk mengabdi kepada Geduk yang pada waktu itu sedang memasang jerat untuk menangkap burung. Secara sengaja kaki belibis dimasukkan ke jerat tersebut. Belibis dibawa kepada Ki Demang. Burung belibis menasihati Ki Demang untuk berhenti menjerat burung, meningkatkan pertanian, dan belajar menjadi pedagang telur burung belibis. Ki Demang menjadi kaya-raya dan kampungnya mulai dikenal orang.

Suatu hari Raja Darmowiseso, ayah Dewi Srenggono, mendapatkan ujian berupa dua orang rakyatnya berebut isteri bernama Bermani. Kedua-duanya mengaku asli bernama Bermana. Padahal salah satunya adalah palsu. Belibis mendengar kabar tentang persoalan raja Darmowiseso dari burung gagak. Belibis membujuk Ki


Sumber Klik Disini